HILWAH~
Anjangsana Penuh Keteduhan Romo *Kyai Haji Jalal Suyuti dan Ibu Hj. Nely Halimah* di Bumi Wonosobo
Wonosobo, *31 Mei 2026* — Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, hubungan batin antara guru dan murid tetap menjadi ruang teduh yang tak tergantikan. Nilai inilah yang terasa kuat dalam agenda anjangsana yang dilakukan oleh Romo Kyai Haji Jalal Suyuti bersama Ibu Hj. Nely Halimah ke sejumlah kediaman santri dan alumni Pondok Pesantren Wahid Hasyim di wilayah Wonosobo.
Anjangsana ini bukan sekadar perjalanan silaturahmi biasa, melainkan perjumpaan yang sarat makna—menjadi ruang berbagi doa, motivasi, serta penguat ikatan ruhani antara pengasuh pesantren dan para alumninya yang kini mengabdi di berbagai bidang kehidupan.
*Mengurai Rindu di Kebumen Bumirejo*
Perjalanan dimulai dari Dusun Kebumen, Bumirejo, Mojotengah, tepatnya di kediaman *Mbak Widat*, alumni Tahfidz PP. Wahid Hasyim yang saat ini mengabdikan diri sebagai pendidik di SD Al Madina.
Suasana hangat sudah terasa sejak awal. Para alumni dari berbagai generasi—senior maupun junior—telah berkumpul menanti kedatangan Romo Kyai dan Ibu Nyai. Penantian hampir satu jam itu justru menghadirkan rasa haru yang sulit dilukiskan.
*Tuan rumah* menggambarkan perasaan tersebut dengan sederhana namun penuh makna:
_“Perasaannya nano-nano; bahagia, deg-degan, sekaligus ada rasa ewuh pekiwuh dan takzim khas seorang santri kepada guru.”_
Di bawah udara sejuk pegunungan Wonosobo, suasana kemudian mencair dalam obrolan ringan yang diselingi gurauan dan nostalgia masa mondok. Romo Kyai menyampaikan motivasi agar para alumni terus menjaga semangat khidmah dan istiqamah dalam menjalani kehidupan.
Pertemuan diakhiri dengan doa bersama. Beliau memanjatkan doa untuk keberkahan ilmu, kelapangan rezeki, kesuksesan hidup, hingga doa bagi para alumni yang sedang menjemput jodoh. Ramah tamah dan makan bersama menutup perjumpaan yang penuh keberkahan tersebut.
*Andongsili: Merawat Keakraban dan Jejak Almamater*
Dari Bumirejo, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Andongsili Baru RT 01/RW 07, Mojotengah, ke kediaman *Pak Dion,* alumni senior lulusan tahun 2001 yang pada masanya pernah dipercaya menjadi Ketua OSWAH (Organisasi Santri Wahid Hasyim).
Kunjungan ini menghadirkan suasana nostalgia tersendiri. Rekam jejak *Pak Dion* membawa Romo Kyai mengenang perjalanan panjang dan perjuangan membangun pesantren.
Dalam dialog yang hangat dan penuh makna, *Romo Kyai* menitipkan pesan penting kepada para alumni:
- Merawat keakraban, menjaga ukhuwah dan kekeluargaan di antara sesama alumni.
- Membesarkan almamater, dengan terus memberi perhatian dan dukungan terhadap PP. Wahid Hasyim sebagai warisan perjuangan almarhum Simbah KH. Abdul Hadi.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan dengan pesantren tidak berhenti saat seseorang lulus, tetapi terus berlanjut dalam bentuk kepedulian dan rasa memiliki.
Pertemuan di Andongsili kemudian ditutup dengan dokumentasi foto bersama sebagai penanda eratnya tali silaturahmi yang tetap terjaga lintas waktu.
*Menembus Jalur Jalisu Menuju Bakalan Kalikajar*
Destinasi berikutnya adalah Desa Bakalan, Kalikajar, di lereng Gunung Sumbing, kediaman Mbak Rita, alumni Asrama Tahfidz (Halimah) yang kini mengabdi di MI Kalisuren.
Perjalanan menuju lokasi menghadirkan pengalaman tersendiri. Rombongan melintasi Jalisu (Jalan Lingkar Sumbing)—jalur yang kini dikenal luas karena keindahan panoramanya.
Hamparan ladang hijau bertingkat, kabut tipis yang menyelimuti lereng gunung, serta gagahnya Gunung Sumbing menjadi latar perjalanan yang menenangkan. Jalisu bukan hanya penghubung antarwilayah, tetapi juga menghadirkan pesona alam yang mempertemukan kemudahan akses dengan keindahan lanskap pegunungan.
Sesampainya di kediaman *Mbak Rita,* suasana haru kembali terasa. Kehadiran Romo Kyai dan Ibu Nyai disambut dengan kebahagiaan dan rasa syukur yang mendalam.
Sebagaimana pada kunjungan sebelumnya, perjumpaan berlangsung akrab dan penuh keteduhan. Motivasi, doa bersama, serta jamuan hangat menjadi bagian dari silaturahmi yang menghangatkan hati.
*Rute Perjalanan Anjangsana*
_Yogyakarta → Mojotengah (Kediaman Mbak Widat dan Pak Dion) → Kalikajar melalui Jalisu (Kediaman Mbak Rita) → Kondur via Temanggung_
*Kembali Menapaki Jejak Spiritual*
Usai seluruh rangkaian anjangsana di Wonosobo, Romo Kyai dan Ibu Nyai melanjutkan perjalanan kondur melalui jalur Jalisu menuju Parakan, Temanggung.
Perjalanan pulang ini sekaligus menjadi napak tilas menuju tanah kelahiran Ibu Nyai Nely Halimah di kawasan Pondok Pesantren Bambu Runcing, sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta.
Bagi para alumni, kunjungan ini meninggalkan kesan yang mendalam. Kehadiran Romo Kyai dan Ibu Nyai menjadi pengingat bahwa pesantren tidak hanya hidup dalam bangunan dan ruang belajar, tetapi terus tumbuh dalam hati para santri melalui nilai, doa, dan keteladanan yang diwariskan.
*Doa dan Harapan Alumni*
_Matur nuwun ingkang tanpa upami atas rawuh lan keridhaan panjenengan berdua. Semoga *Romo Kyai dan Ibu Nyai* senantiasa diparingi kesehatan, thawil umur, keberkahan hidup, serta terus menjadi suluh inspirasi dan teladan bagi seluruh santri dan alumni. Barakallah._
Melaporkan dari Wonosobo
Notulis: Dion
(IKAWEHA)





Komentar
Posting Komentar